22 Mei 2026
Malam yang hening diiringi dengan orkestrasi alam oleh kawanan jangkrik membuatku menjadi lebih tenang. Kata demi kata dalam pikiran menyeruak menggerakkan jemari mungil ini agar memintalnya menjadi lembar-lembar kisah. Mengalir begitu saja.
Malang, 2017
Sebuah postingan dari akun instagram Indonesia Mengajar (IM) muncul di beranda. Postingan acara sharing pengalaman alumni IM asal Malang. Tanpa banyak pertimbangan, langsung saja aku mendaftar. Sudah lama aku menantikan ada sharing terkait IM.
Sebagai mahasiswa yang masih tergolong kategori baru, semangat untuk ikut kegiatan ini dan itu masih begitu membara. Inginnya semua-mua diikuti. Cari pengalaman sebanyak-banyaknya. Mumpung masih muda. Begitu pikirku dulu.
Dan salah satu kegiatan yang sangat ingin aku ikuti adalah menjadi Pengajar Muda (PM) di program IM. Rencananya, nanti kalau sudah selesai kuliah mau daftar PM. Ah, ya, masih beberapa tahun lagi memang. Takada salahnya aku mulai mengumpulkan info terkait IM sejak dini. Dari sinilah awal mula aku mengenal Kelas Inspirasi (KI). Ya, sejak aku mengikuti akun IM.
Kala itu ada KI Malang sedang open recruitment untuk relawan pengajar.
"Ah, rasanya ini bisa sih aku ikuti, sembari menunggu cukup tahun untuk daftar IM", pikirku.
Jiwa relawan + jiwa mengajarku sudah membuncah melihat postingan itu. Senyum terukir tanpa diminta. Jemariku gatal kalau belum mengklik postingan perihal KI.
Senyumku perlahan pudar...
Ah, ternyata aku belum memenuhi kualifikasi menjadi relawan pengajar. Ternyata relawan pengajar untuk tenaga profesional alias orang yang sudah bekerja. Sedang aku? Statusku saat ini masih mahasiswa. Pupus sudah harapanku daftar KI.
"Oke, tunggu beberapa tahun lagi. Bersabar dulu ya diriku"
Itulah kalimat terakhir yang kuucapkan pada diriku sendiri.
Maret 2026
Sebuah postingan perihal kegiatan relawan muncul di beranda. Kelas Inspirasi Mojokerto. Kelas Inspirasi. Beberapa kali aku mengulang kata "Kelas Inspirasi"
"Hmm...Kelas Inspirasi. Kok rasanya familiar"
Ya, rasanya sangat familiar. Melihat logonya pun terasa familiar. Di KI Mojokerto terselip logo tunas kecambah (begitu aku menyebutnya).
Beberapa saat kemudian, ingatanku dibawa mundur ke tahun 2017. Ah, ini kan yang aku pernah ingin daftar dulu. Tanpa pikir panjang, aku segera mengisi formulir pendaftaran. Urusan lolos atau tidak, itu urusan belakangan.
April 2026
Kereta yang kutunggu baru saja datang ketika sebuah pesan dari nomor yang tidak kukenal masuk. Ini siapa deh? Sekilas kubaca melalui notif bar. Oh, pesan tautan grup. Hah? Grup apadeh?
Aku segera melangkah memasuki gerbong. Mencari nomor kursi sesuai tiket. Begitu sudah menemukan nomor kursi yang sesuai, barulah kubaca penuh pesan yang masuk.
Ooh, KI Mojokerto (Kimor) sudah pengumuman relawan ternyata. Senang rasanya bisa tergabung di program yang sedari dulu ingin aku ikuti. Tidak ada rasa senang yang membuncah memang, tapi cukup senang.
Senang karena bisa kembali mengikuti kegiatan sebagai relawan, setelah entah berapa lama sudah vakum dari dunia kerelawanan. Senang karena bisa "jalan-jalan" ke Mojokerto dengan tujuan yang (lebih) jelas.
Kimor 9, SDN Pucuk 2, I'm coming!
2 Mei 2026 : Hari Inspirasi (HI)
![]() |
| Foto oleh : Relawan Dokumentator |
Setelah 2x virtual meeting rombel, setelah berkenalan satu per satu secara daring melalui grup rombel, setelah diskusi cukup panjang (sekitar 2 minggu lebih sebelum Hari Inspirasi), akhirnya hari yang dinanti tiba. Akhirnya kami –para relawan– bertemu secara langsung. Semuanya adalah orang baru bagiku. Berangkat dari titik kumpul, kami bersama-sama menuju SDN Pucuk 2 yang berlokasi di Pulorejo, Kecamatan Dawarblandong. Yap, kami menginap di sekolah.
Hari Inspirasi (HI) kali ini bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Murid-murid dan tenaga pendidik SDN Pucuk 2 memakai pakaian adat. Ah, menggemaskan sekali melihat anak-anak datang ke sekolah pakaian adat yang beragam.
Acara diawali dengan "upacara pembukaan" di lapangan oleh ibu kepala sekolah, lalu dilanjutkan dengan pengenalan seluruh tim relawan. Satu per satu, 8 relawan pengajar, 2 relawan dokumentator, dan 7 fasilitator menyapa adik-adik. Mereka terlihat antusias, sudah tidak sabar, dan penasaran dengan kegiatan hari ini karena melihat beberapa kakak-kakak relawan yang saat ini berdiri di depan memakai baju "yang tidak biasa".
Agenda di lapangan selesai, sambil berbaris dan menjulurkan tangan membentuk kereta-keretaan, murid-murid masuk ke dalam kelas bersama dengan kakak-kakak relawan yang bertugas di sesi pertama. Sesi pertamaku bersama murid-murid kelas 5. Durasi tiap sesi 30 menit.
![]() |
| Foto oleh : Relawan Dokumentator |
HI menjadi momen pertama kali (lagi) bagiku setelah 8 tahun tidak berinteraksi dengan murid-murid di lingkungan sekolah seperti hari ini. Kegiatan relawan terakhir yang aku ikuti yang berkaitan dengan murid-murid SD tahun 2018 silam di kegiatan Traveling & Teaching (TnT) 1000 Guru Malang. Sekolah yang kami tuju saat itu adalah MI Jabal Tsur yang berlokasi di desa Tajinan, Kabupaten Malang.
Masih asyik berinteraksi dengan murid-murid, kakak fasilitator datang memberi kode. Lima menit lagi katanya. Aih, cepat sekali rasanya 30 menit sudah mau berlalu. Tidak terasa.
Sesi pertama selesai. Sesi kedua dimulai. Kakak-kakak relawan pengajar berganti memasuki kelas sesuai jadwal. Kebetulan jadwalku kosong di sesi kedua. Lanjut lagi di sesi ketiga, sebelum jam istirahat. Rombel kami ada 5 sesi.
Selalu ada kisah menarik di setiap kelas yang aku masuki. Dua sesi terakhir setelah jam istirahat punya kisah yang tidak kalah menarik dan menyentuh dari sesi sebelum-sebelumnya. Sesi setelah istirahat, aku di kelas yang anak-anaknya paling mungil dan menggemaskan. Yap, kelas 1. Mereka bilang katanya tadi belum sempat istirahat. Jadi, masih ada beberapa anak yang masih jajan di kantin. Kuizinkan mereka untuk membawa makanannya dan makan di kelas, sambil mengikuti kegiatan.
Anak-anak kelas 1 ini sangat antusias sekali. Mereka sudah berdiri mengelilingi meja guru, siap menyimak pembelajaran baru. Disaat anak-anak antusias maju ke depan, tidak mau duduk di kursi masing-masing, kulihat ada satu anak perempuan yang tetap duduk di kursinya. Kudekati ia dan kutanya, "Kamu kenapa kok kelihatan sedih begitu? Kamu nggak ikut jajan sama teman-temanmu yang lain?"
Ia hanya menggeleng.
" Kalau mau jajan gapapa kok. Nanti makannya dibawa ke kelas"
Ia masih menggeleng.
Disaat itu, ada satu teman kelasnya yang memperhatikan kami. Ia ikut nimbrung dalam obrolan. Ia menanyakan hal yang sama seperti yang aku tanyakan. Akhirnya si anak menjawab kalau hari ini ia tidak membawa uang saku. Temannya pun segera mengeluarkan selembar uang Rp5.000 dan memberikan kepadanya, lalu bilang, "Ini pakai aja uangku, gapapa"
Ia masih tetap menggeleng.
" Gapapa, ini pakai aja. Ayo kita jajan"
Akhirnya ia pun mau menerima uang dari temannya. Mereka berdua menuju kantin.
Anak masih kelas 1, tapi empatinya luar biasa. Ah, ternyata justru aku yang banyak belajar dari acara ini. Anak sekecil itu menjadi pengingat bagi diriku supaya aku lebih peka dengan orang-orang di sekitarku.
Lain cerita dengan kelas sesi terakhir. Kalau kata gen z, "gongnya ada di akhir". Betul sekali, gongnya memang ada di akhir. Sesi terakhir aku dapat jadwal di kelas 2. Sesi sebelumnya di kelas 1. Begitu masuk ke kelas 2, deng dong, kelas kosong. Tidak ada satu pun murid di kelasku. Ternyata mereka semua jajan di kantin, lapar katanya, belum istirahat. Kulihat mereka asyik ngobrol bersama kakak-kakak relawan yang sudah tidak ada sesi. Dibantu oleh fasilitator, kujemput mereka di kantin dan murid-murid kembali digiring masuk kelas untuk mengikuti sesi terakhir.
Mungkin mereka sudah lelah, ingin bergegas pulang karena hari biasanya mereka tidak pernah pulang sesiang ini. Syukurnya kelas bisa terkondisikan. Mereka tetap antusias mengikuti sesi belajar bahasa isyarat abjad A-Z.
Pasca HI
![]() |
| Foto oleh : Relawan Dokumentator |
Pucuk...
Nama rombel kami boleh pucuk, tapi obrolan dan silaturahmi tidak ada pucuknya.
Teruntuk seluruh anggota relawan di rombel SDN Pucuk 2 (relawan fasilitator, pengajar dan dokumentasi). Pertemuan kita memang tidak sampai 24 jam. Bahkan 12 jam pun tak sampai. Mungkin inilah buah kesabaran dari penantianku selama 8 tahun. Di tahun ini aku dipertemukan dengan rekan-rekan rombel Pucuk yang punya semangat dan antusias tinggi di bidang kerelawanan. Manusia-manusia yang penuh gebrakan.
Aku bersyukur bisa bergabung di KIMOR 9 dan dipertemukan dengan orang-orang seperti kalian. Beragam latar belakang, satu harapan. Harapannya "keluarga rombel" Pucuk bisa terus bersama, bekerjasama menginisiasi kegiatan-kegiatan positif, menebar inspirasi. Tidak hanya untuk internal rombel, tapi juga untuk yang lain.



0 Komentar