Sayang Bapak Gak Duwe Buku Agenda

September 2020    

        Malam itu, gantian aku yang menjaga bapak. Tidak banyak kami mengobrol. Bukan karena bapak tidak ingin mengobrol denganku, tapi karena aku tau, diamnya bapak saat ini karena ia sedang bergulat dengan rasa sakitnya. Sudah beberapa hari batuknya tak kunjung sembuh, badan panas tak kunjung reda, rasa sesak di dada semakin bertambah, dan hilangnya kemampuan membau. Aku tau, melihat gejala sakit bapak, anggota keluarga kami pasti punya dugaan. Selama ini bapak tidak pernah sakit seperti ini, bahkan jarang sakit. Ya, suspect COVID-19. Aku pun juga memiliki dugaan yang sama, tapi bodo amatlah ketika aku harus menjaga bapak di kamar, berinteraksi dengan bapak tanpa menggunakan masker pelindung. 

        Malam itu, tiba-tiba bapak bilang, "Sayang bapak ga duwe buku agenda" (Sayang bapak tidak punya buku agenda). Aku diam sejenak. Kalau hanya sekadar buku agenda, aku tau kok bapak punya buku agenda. Buku catatan ukuran B5 dengan cover kulit berwarna hitam yang dibawanya saat menghadiri acara seminar/rapat. Aku paham "buku agenda" yang bapak maksud saat ini. 

        Aku paham, masih ada banyak hal yang ingin bapak sampaikan padaku. Masih ada banyak hal yang bapak ingin aku mengetahuinya, masih ada banyak pelajaran hidup yang ingin bapak ajarkan padaku,  tapi di kondisi saat ini, jangankan mau bercerita panjang lebar, untuk mengucapkan 1 kalimat saja terasa berat karena dada begitu sesak. Dan aku juga paham, ucapan bapak adalah tanda sebentar lagi akan pamit.

        Rasa sukaku untuk membuat coretan kata-kata memang menurun dari bapak. Seperti bapak pula, aku menuliskannya dimana saja, suka-suka, tidak terkumpul dalam satu buku khusus. Sejak malam itu, aku bertekad untuk memiliki buku khusus untuk menuangkan apapun di dalamnya. Perihal isi pikiran, ide yang tiba-tiba muncul, keluhan dan lainnya. 

                                                                            ***

Tulisan di halaman awal buku catatan yang bertuliskan " Kenali diri lebih dalam"


        Akhir 2021, aku berselancar di toko oren, mencari toko cetak buku yang bisa custom. Ya, aku ingin buku catatanku ada identitas personal. Buku khusus untuk tahun 2022. Nanti mau diisi apa, suka-suka saja. Setelah buku jadi, sudah sampai di tangan, awal-awal bulan tahun 2022 masih semangat untuk mengisi dengan menulis tangan. Lama-lama mulai merasa capek kalau harus menulis tangan. 

        Akhir tahun 2022, aku kembali memesan buku di tempat yang sama. Polanya ternyata masih sama. Awal-awal tahun masih semangat untuk mengisi, menulis tangan. Lama-lama merasa capek kalau harus tulis tangan. 

        Aku pun merenung, "Sebenarnya apa yang aku mau dari kegiatan menulis?", "Apakah aku harus menulis tangan?", " Haruskah aku punya buku agenda seperti yang bapak maksud?", " Apakah harus berupa buku fisik?"

        Kuluangkan waktu untuk menjawab satu per satu pertanyaan dalam diri. 


                    "Sebenarnya apa yang aku mau dari kegiatan menulis?"

        Aku ingin menulis untuk lebih mengenal diriku sendiri, seperti apa yang aku mau, apa yang menjadi prinsip hidup dan lainnya. Aku juga ingin mengabadikan kisah-kisah perjalan hidup, kisah pribadi dan juga kisah orang-orang yang hadir dalam hidupku.

       

                 "Apakah aku harus menulis tangan?"

        Aku suka buku catatan dengan tulisan tangan, karena terasa personal, tapi kalau untuk menuliskan cerita yang agak panjang, tentu akan melelahkan. 


            " Haruskah aku punya buku agenda seperti yang bapak maksud? Apakah harus berupa buku fisik?"       

   Ada masa dilema. Di satu sisi aku ingin memiliki buku catatan fisik, ingin menuliskan cerita panjang di dalamnya dengan tulisan tangan agar terasa semakin personal, tapi di sisi lain aku merasa capek kalau harus tulis tangan sepanjang itu. Ada kepuasan tersendiri ketika memiliki buku fisik. Tentu aku tetap ingin punya buku fisik. Walaupun tidak terisi penuh seperti bayangan awal. 

        Seiring berjalannya waktu, akhirnya aku mulai "menemukan titik temu" antara tujuan menulis dan media yang digunakan. Buku catatan fisik akan aku isi dengan kalimat-kalimat singkat, poin-poin cerita. Sedangkan untuk cerita versi panjangnya akan kutulis di media lain, seperti note ponsel ataupun blog pribadi ini. 

       Semoga dengan ikut serta dalam event 30 Days Writing Challenge (30DWC) jilid 50 yang diadakan oleh Passionate Writing Academy (PWA) bisa membantuku untuk konsisten menulis sesuai tujuanku, yaitu lebih mengenal diri sendiri. 




        

Posting Komentar

0 Komentar