Anak IPA yang Sosial

Nanti kalau kamu sudah besar jadi guru saja seperti bapak ibumu ya

        Begitulah ucapan yang sering aku terima dari orang-orang di sekitarku. Aku masih terlalu kecil untuk memahami maksud di balik ucapan mereka. 

        Aku rasa saat itu mereka bilang seperti itu sekadar untuk basa basi karena mereka tahu kalau kedua orang tuaku adalah guru. Bulikku (tante) pun juga guru. Keluarga besar kami dikenal sebagai keluarga guru. Jadi, tidak heran kalau orang-orang mengharapkan kelak aku juga mengikuti jejak orang tua, sebagai guru. 

        Aku tidak yakin mereka (orang-orang di sekitarku) mengatakan demikian karena mereka memang bisa melihat potensi dalam diriku. Rasanya potensi "jiwa pendidik" ku belum muncul sejelas itu untuk bisa dibaca oleh orang awam. Aku ingat, pertama kali aku mendapat ucapan itu saat aku masih kelas 1 SD. Lalu, atas dasar apa mereka mengarahkanku untuk jadi guru saja kalau bukan hanya sekadar basa basi? 

        Tahun berganti. Tidak terasa jenjang SD sebentar lagi selesai. Ucapan seperti masih saja sering aku terima dari ibu-ibu teman kelasku sendiri. Kali ini aku tidak menganggapnya hanya sekadar basa basi. Mereka sungguhan menaruh harap padaku agar aku menjadi guru. Bukan karena keluargaku guru, tapi karena mereka sudah tahu potensi diriku. Mereka tahu nilai raporku dan prestasi akademikku. Mereka semakin yakin kalau aku cocok menjadi guru. Setiap aku menulis kolom cita-cita pun akhirnya kutulis "guru". 

        Tahun berganti. Tidak terasa jenjang SMP sebentar lagi selesai. Ada rasa dilema saat menentukan apakah setelah ini lanjut SMA ataukah SMK. Dalam hati rasanya ingin mengambil SMK saja. Ambil jurusan tata boga. Aku ingin memiliki kemampuan teknis, tidak hanya kemampuan akademis yang berkutat di teori, tapi orang tau menginginkan aku lanjut SMA saja. Okelah, kucoba dulu untuk mengikuti tes masuk SMA. Kalau tidak lolos, aku mau lanjut ke SMK. 

        Ternyata lolos tes. Padahal saat itu aku sudah berkecil hati akan lolos karena ada tahap tes yang aku rasa aku gagal melaluinya. Tahap yang membuatku mengatai diri sendiri, "Gitu aja nggak bisa". Bukan mengatai yang memojokkan diri sendiri, tapi mengatai untuk gurauan. Ah yasudah, tidak lolos pun tidak masalah. 

        Saat SMA, angkatanku menjadi tahun percobaan dimana penjurusan dilakukan sejak awal masuk SMA, bukan lagi di tahun kedua seperti angkatan sebelum-sebelumnya. Dan aku tentu saja memilih jurusan IPA (Ilmu Pengetahuan Alam). Bukan untuk keren-kerenan (dulu, stigma anak IPA itu keren dan anak IPS nakal masih kuat), tapi karena aku sudah punya pondasi di koridor IPA. Dari SD sampai SMP aku menjuarai olimpiade IPA dan Biologi.  

        Saat akan melanjutkan kuliah pun, tidak sedikit yang mengarahkan agar aku mengambil jurusan pendidikan, supaya nanti bisa jadi guru. Ya, aku suka mengajar, tapi aku tidak ingin menjadi guru pengajar formal seperti di sekolah. Ada juga yang mengarahkan untuk mengambil kedokteran karena aku memiliki pondasi ilmu biologi yang cukup kuat. Uhmm aku tidak kuat melihat luka fisik yang terbuka. Tidak ada yang mengarahkanku untuk mencoba mengambil koridor ilmu sosial. Ah, orang secuek ini (saat itu) juga mana tertarik dengan ilmu sosial.

        Sedari SD sampai kuliah, aku memang berjalan di koridor "anak IPA", bukan koridor sosial. Selama SMA, jiwa sosialku masih tertimbun dengan ilmu eksak. Berinteraksi dengan orang lain hanya menghabiskan energi bagiku. Berinteraksi dengan orang yang baru saja dikenal, membuatku tidak nyaman. Aku lebih memilih diam daripada harus mengobrol dengannya. 


Masa Pembalikan 

        Ibarat diri ini adalah sebuah ladang, tanah ladang ini selama ini tidak pernah dilakukan penggemburan. Struktur tanah menjadi padat, kering, kurang subur. Siapa tahu ternyata di bawah permukaan tanah ini tersimpan banyak biji yang dorman. Biji itu tidak bisa tumbuh karena struktur tanah yang kurang baik. 

        Masa pembalikan adalah masa penggemburan. Masa penggemburanku dimulai sejak tahun 2021 lalu. Biji yang mulanya dorman, akhirnya mampu bertunas. Biji itu adalah jiwa sosial. 

Program penggemburannya berhasil. 

        Orang yang semula malas berinteraksi dengan orang baru, hari ini menjadi sebaliknya. Orang yang semula mengobrol hanya untuk sekadar basa basi mengisi kekosongan waktu, hari ini setiap obrolannya jadi terasa lebih bermakna. Orang yang selama ini cuek dengan bahasan kesehatan mental, hari ini justru peduli. Selama ini berjalan di koridor ilmu eksak, akhirnya menjadi anak sosial. 

        Masa penggemburan tidak menghilangkan jiwa pendidik. Jiwa pendidik justru tumbuh subur. Menjadi pendidik tidak harus menjadi guru di sekolah formal kan? 




Posting Komentar

0 Komentar