Surabaya, 24 April 2026
Aku suka melancong!
Uhm... Aku memang diciptakan untuk melancong sih, mengarungi Samudera bersama para wisatawan. Senang rasanya bisa menemani perjalanan mereka. Memandang lautan yang seolah tak berujung. Singgah dari satu pelabuhan ke pelabuhan lainnya. Mengantar mereka menuju satu destinasi ke destinasi wisata lainnya.
Aku memulai pelayaran tahun 2023 lalu. Masih anak baru memang. Selama 18 hari aku berlayar dari Sydney, Australia dengan tujuan akhir Singapura. Pelayaran bertajuk "Barrier Reef Treasures" ini dimulai sejak 9 April lalu. Perjalanan melintasi perairan 3 negara : Australia, Indonesia, Singapura.
Di Indonesia, aku singgah di beberapa pelabuhan. Pelabuhan di Indonesia yang pertama aku singgahi adalah Pelabuhan Tenau, Kupang, Nusa Tenggara Timur pada tanggal 20 April lalu. Kemudian lanjut ke Pulau Komodo (21 April), Pelabuhan Benoa, Bali (22-23 April). Dan hari ini, aku singgah di Pelabuhan Perak, Surabaya. Perjalananku berakhir di Singapura tanggal 26 April nanti.
"Surabaya very hot!"
Aku yakin itulah yang akan diucapkan para wisatawanku. Aku sih sudah terbiasa, tapi tidak dengan mereka. Ah, Kupang pun juga sama, panas. Tapi walaupun panas, aku yakin pemandangan atau pun destinasi wisata di setiap daerah yang aku singgahi, pasti menarik.
Sayangnya aku tidak bisa ikut dengan mereka. Momen singgah di pelabuhan menjadi momen istirahat bagiku. Melepas lelah setelah mengarungi lautan. Nanti, sekembalinya mereka berwisata, pasti akan kudengar cerita-cerita menarik darinya. Ah, tidak sabar aku ingin mendengar cerita perjalanan mereka.
Sampai di Surabaya, para wisatawanku disambut dengan musik tradisional yang mengiringi penari tradisional meliuk-liukkan badan dengan luwesnya. Pemandu wisata dari agen travel sudah siap menyambut di pintu keluar. Bus dan mobil travel berjajar di depan pintu keluar terminal penumpang GSN (Gapura Surya Nusantara) siap mengantar keliling kota Surabaya. Para porter yang berseragam biru dengan nomor terbordir di seragamnya, juga sudah stand by.
Akhirnya aku bisa istirahat sejenak. Walaupun aku tidak bisa benar-benar beristirahat karena aku bertemu dengan wisatawan lainnya, ya, wisatawan lokal. Mungkin ini kali pertama mereka melihatku. Untung saja aku tidak punya malu. Mau sebanyak apa pun mata memandangku, seberapa banyak mata kamera ponsel mengambil foto dan video diriku, aku tidak masalah. Justru aku senang bisa memberikan kenangan indah bagi mereka.
Di antara beberapa pasang mata yang melihatku, kulihat seorang perempuan berkerudung tosca tengah diam berdiri memandangku sambil mencangklong tote bag warna cream dengan motif gambar robot-robot, tas kesayangannya. Aku mendengar kisahnya. Walaupun dia tidak mengucap satu kata pun dari lisannya, aku bisa mendengar suaranya. Ia bilang, "Mimpiku kemarin siang menjadi nyata".
*****
Bagi orang awam, mungkin mereka akan bilang, "Halah, itu cuma mimpi siang bolong!"
Ya nggak salah juga sih, karena aku mimpinya juga di jam tidur siang, hahaa.
Tapi bagiku, mimpi siang bolong bukan sekadar mimpi kalau setelahnya kita diberi sinyal petunjuk. Ya entah nanti akan ada apa juga di sana kalau aku beneran "merealisasikan" mimpi siang bolongku.
Tidur kemarin siang aku mimpi sedang melihat kapal pesiar yang baru saja datang untuk mengangkut penumpang. Malam harinya, semesta memberi sinyal. Wah, ternyata betulan. Besok (hari ini) Kapal Pesiar Oceania Vista singgah di Pelabuhan Perak, Surabaya. Aku diberi kesempatan untuk sungguhan melihat kapal pesiar yang sedang singgah, bukan untuk menaikkan penumpang, tetapi sedang menurunkan penumpang. Tanpa banyak pertimbangan, hari ini pun aku berangkat ke Surabaya North Quay (SNQ) untuk melihat langsung kapal pesiar. Si Kapal yang bercerita.
Begitu aku sampai di pelabuhan, melihat para pemandu wisata dari agen travel berkumpul berdiri melingkar untuk briefing, aku jadi ingat akan cita-cita lamaku, ingin jadi pemandu wisata yang fasih berbahasa Jerman. Dulu sering membayangkan keseruan jalan-jalan bersama wisatawan mancanegara, bertemu dengan orang baru, berbagi cerita dengan mereka dan menambah relasi.
Ku susuri lorong teras ruang tunggu, padat penuh penumpang lokal yang sedang menunggu. Mereka hendak menyeberang ke pulau seberang. Disaat para penumpang kapal duduk-duduk--bahkan tiduran tanpa alas-- di teras luar ruang tunggu sambil membawa banyak barang untuk menunggu kapal mereka datang, aku di sini menunggu pintu masuk SNQ dibuka. Hendak menyapa Si Kapal Pesiar Oceania Vista. Kusapa ia dengan selembar uang Rp10.000 dan curhatan mimpiku kemarin siang, "Mimpiku kemarin siang menjadi nyata".
Kembali ke sini memang seperti nostalgia.


0 Komentar